Menunjukkan Rasa Sayang

khoiriyalatifa:

Manusia, selain dianugrahi akal, juga dianugrahi rasa sayang. Perasaan menyayangi merupakan perwujudan dari bentuk abstrak ‘cinta’ yang tidak bisa didefinisikan wujudnya. Perasaan sayang itu terkadang ditampakkan dengan berbagai bentuk dan rupa. Seorang ayah yang membelikan anak perempuannya sebuah boneka beruang yang lucu merupakan salah satu bentuk konkrit rasa sayang yang dewasa ini dipahami secara awam. Atau, salah satu bentuk rasa sayang itu bisa berwujud dari ucapan seorang ibu kepada anak perempuannya yang hendak pergi jauh menimba ilmu di luar kota: 

“Nak, kalau butuh apa-apa, bilang segera ke Ibu ya. Insyaa Allah akan ibu penuhi kebutuhannmu.”

Namun, benarkan rasa sayang yang demikian adalah cara menunjukkan rasa sayang yang sepenuhnya benar?

Mari kita tengok bagaimana Rasulullah menunjukkan rasa sayangnya kepada Fatimatuz Zahra, anak perempuannya yang amat sangat disayanginya.

Suatu hari, Ali bin Abi Thalib meminta tolong kepada Fatimah untuk menyampaikan suatu perkara kepada Rasulullah.

“Fatimah, sampaikanlah kepada Rasulullah untuk memberikan kita dua khadimat (pembantu rumah tangga) untuk membantumu menumbuk gandum untuk membuat tepung roti. Jika aku yang menyampaikan terasa kurang sopan sebab aku hanya menantu.” begitu kira-kira bahasanya. Ali bin Abi Thalib melakukan ini karena melihat Fatimah yang tiap hari kesusahan menumbuk tepung roti sendirian hingga kulit-kulit tangannya menebal.

Lantas, pergilah Fatimah ke rumah Rasulullah dan berbicaralah ia kepada Ayahandanya

“Ya, Rasulullah, jika engkau bersedia, berikanlah aku dan suamiku dua khadimat untuk membantuku menumbuk tepung roti. Jika tidak dua, maka tak apa bila satu saja.” Rasulullah tersenyum.

“Anakku, maukah kamu kuberikan saran yang lebih baik agar kau mempunyai tenaga selayaknya 10 khadimat sehingga kau mampu menumbuk tepung rotimu sendiri. Bacalah dzikir sebelum engkau tidur.”

“Aku tidak mau pahala rumah tanggamu diambil oleh para khadimat-khadimat itu. Milikilah sendiri dan masuklah surga karena banyaknya (pahalamu itu).”

Fatimah pulang dengan tangan hampa namun dengan hati penuh atas nasihat Ayahandanya.

Di riwayat lain diceritakan bahwa Rasulullah mendatangi rumah putrinya ini dan mendapati Fatimah sedang menangis saat menumbuk tepung roti. Fatimah menangis dan meminta kepada Rasulullah untuk diberikan khadimat agar dapat membantunya membuatkan tepung roti sebagai bahan makanan bagi ia dan suaminya. Namun, Rasulullah memberikan nasihat bahwa jika seorang istri hendak masuk surga, maka berbakti kepada suami dengan (salah satunya) membuatkan makanannya adalah salah satu jalannya.

Mari kita lihat contoh lain

Suatu hari Rasulullah keluar dari rumahnya dan mendapati seorang pemuda Yahudi melemparinya kotoran unta. Hal ini ternyata tidak hanya terjadi satu hingga dua kali namun rutin hampir setiap hari. Hingga suatu hari Rasulullah tidak mendapati pemuda itu melemparinya kotoran unta lagi. Maka, dicarilah pemuda itu dan Rasulullah mendapatkan kabar bahwa ia sakit keras.

Rasulullah, seorang hamba yang memiliki sifat pemaaf yang tiada batas, mendatangi pemuda itu dan berkata.

“Hai Pemuda, mungkin saja ini penyakit yang akan membawamu kepada kematian. Maukah kamu mengucapkan syahadat?”

Maka terucaplah dua kalimat syahadat dari pemuda itu. Tak lama kemudian, pemuda itu meninggal dunia. Dalam keadaan Islam tentunya.

Mari kita lihat perbedaan wujud sayang kita dengan wujud sayang Rasulullah. Perbedaanya jelas pada cara dan tujuan.

Rasulullah memberikan contoh bahwa rasa sayang yang sesungguhnya adalah rasa ingin melindungi orang-orang terkasih tidak hanya sebatas di dunia, namun juga di kehidupan selanjutnya, akhirat. Rasa sayang ditunjukkan dengan keinginan untuk membawa serta orang-orang terkasih bersama-sama menuju jannah dengan pahala yang penuh nan berlipat-lipat. Rasa sayang tidak terbatas kepada pemberian fasilitas nan komplit untuk mendukung kehidupan yang baik, namun juga mencakup pengetahuan agama dan pembentukan akhlaq yang terpuji sebagai bekal kehidupan.

Rasa sayang Rasulullah juga terwujud dengan sifat sabar dan pemaafnya yang tak berbatas. Rasul selalu memberikan celah pemakluman bagi sesiapapun yang berbuat tidak baik dengan tetap mengharapkan hidayah atasnya kepada Allah.

Kasih sayang Rasulullah melampaui batas dunia. Lebih jauh, kasih sayang Rasulullah kepada siapapun adalah tentang bagaimana ia bisa membawanya ke Surga bersama-sama.

Maka, mari perbaiki wujud rasa sayang kita (kepada siapapun) menjadi rasa sayang yang setapaknya menuju kepada hal yang lebih jauh dari pada sekedar dunia: Surga.

Wallahualam.

disarikan dari ceramah Ustdh. Erika Suryani Dewi, Lc. M.A. dalam kajian Madrasah Peradaban,  040616, Masjid Asy Syifa, Jakarta Pusat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s